Peribahasa Indonesia sudah sering digunakan oleh masyarakat. Keanekaragaman adat-istiadat, budaya, dan bahasa di negara Indonesia berpengaruh pada perbendaharaan kalimat, yaitu Peribahasa Indonesia. Berikut ini saya akan memberikan beberapa Peribahasa Indonesia beserta arti atau maknanya.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.
Hanya mau bersama saat sedang senang saja, tak mau tahu di saat sedang susah.
Menang jadi arang, kalah jadi abu.
Kalah ataupun menang sama-sama menderita.
Bagaikan abu di atas tanggul.
Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.
Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan.
Di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.
Adat pasang turun naik.
Kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.
Membagi sama adil, memotong sama panjang.
Jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.
Air beriak tanda tak dalam.
Orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.
Air tenang menghanyutkan.
Orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.
Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.
Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.
Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.
Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.
Tong kosong nyaring bunyinya.
Orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.
Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.
Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.
Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.
Bagaikan burung di dalam sangkar.
Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.
Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga.
Meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.
Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh.
Seiya sekata dalam semua keadaan.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.
Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya.
Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.
Jauh di mata dekat di hati
Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.
Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.
Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.
Rabu, 07 Maret 2012
Kamis, 24 November 2011
cerita anak-anak
Biji-biji Burung Gereja
Page 1 of 2
Di suatu lembah yang subur, sekelompok binatang hidup dengan aman dan nyaman. Mereka tidak pernah berkekurangan.
Lembah itu menyediakan semua yang dibutuhkan para hewan. Sumber mata air yang segar, pohon-pohon yang selalu berbuah tanpa mengenal musim. Semua hewan hidup dengan bahagia.
Suatu hari bertemulah seekor monyet dengan burung gereja yang sedang mematuk-matuk di tanah.
“ Apa yang sedang kau lakukan burung Gereja ?” Tanya Monyet.
Burung Gereja memandang Monyet dan berkata “ Aku sedang mengumpulkan biji-bijian “
Mendengar jawaban Burung Gereja, Monyet tertawa terbahak-bahak “Ha…ha..ha…., untuk apa kau mengumpulkan biji-biji itu, lihatlah di selilingmu, begitu banyak buah-buahan yang bisa kau makan, kenapa kau malah mengumpulkan sesuatu yang dibuang ?”
Tapi Burung Gereja tidak menghiraukan perkataan Monyet dan tetap mengumpulkan biji buah-buahan kemudian membawanya ke atas bukit.
Esok harinya, Monyet bertemu lagi dengan Burung Gereja, kali ini Monyet membawa buah apel di tangannya
“ Hai Burung Gereja, kau sedang mencari biji-bijian lagi ya ? pantas saja kau tidak bertambah besar, yang kau makan bijinya, bukan buahnya…ha.. ha…ha… “ Ejek Monyet
Burung Gereja hanya diam dan terus mengumpulkan biji- biji apel yang dibuang oleh Monyet.
cerita anak-anak
Petani yang Baik Hati
Page 1 of 2
Di suatu desa, hiduplah seorang petani yang sudah tua. Petani ini hidup seorang diri dan sangat miskin, pakaiannya penuh dengan tambalan dan rumahnya terbuat dari gubuk kayu. Musim dingin sudah tiba, Pak Petani tidak punya makanan , juga tidak mempunyai kayu bakar untuk menghangatkan diri, jadi hari ini Pak Petani hendak pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Ketika keluar dari rumah, dilihatnya ada sebutir telur tergeletak diatas tanah bersalju.
Dengan hati-hati dipungutnya telur tersebut dan dibawanya ke dalam rumah. Pak Petani menyelimuti telur itu dengan kain lusuh dan meletakkannya di dalam kardus agar tetap hangat. Setelah itu dia pergi ke pasar untuk bekerja.
Pak Petani membuat telur itu menjadi hangat setiap hari sampai telur itu menetas. Ternyata telur itu adalah telur Burung Camar, mungkin induknya menjatuhkannya ketika hendak pindah ke tempat yang lebih hangat. Pak Petani merawat Burung Camar kecil itu dengan penuh kasih sayang. Dia selalu membagi setiap makanan yang diperolehnya dari bekerja di pasar. Ketika harus meninggalkan Burung Camar itu sendirian, Pak Petani akan meletakkannya di dalam kardus dan menyalakan perapian agar Burung Camar tetap hangat.
cerita anak-anak
Asal Mula Rumah Siput
Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana… Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .
Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.
Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk ,, tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,
Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru….
Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.
Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan….
Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku, …. aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.
Kamis, 06 Oktober 2011
KLAKAR WONG KITO
Kelakar Wong Kito Palembang
Posted by Voip Murah in Cerita.Tags: Kelakar, lucu, palembang, wong kito
trackback
KALU NGAH IKAK BUKAN TENTRA, BUKAN PLISI, BUKAN SATPAM, BUKAN HANSIP, NGAPE NGAH IKAK NGINJAK KAKI KU!!!??&?!!!!!!!
Setelah banyak nulis tentang perjalanan-perjalanan dalam Bahasa Indonesia ataupun Inggris pengen jugo rasonya nulis tentang kelakar wong kito Palembang dalam Baso Palembang tentunyo terutamo waktu kito kuliah dulu. Aku cubo ingat-ingatke lagi, juga kalu seandainya kawan-kawan kita yang kebarengan meliat tulisan ini pacak menambah segalo kelakar itu.
Palembang atau Sumatera Selatan umumnya terdiri dari banyak suku yang punyo baso yang beda-beda meskipun kita dipersatukan oleh Baso Palembang. Beda baso dan logat kadang jadi lawakan walau tidak diharapke jadi kelakar yang mengarah ke SARA.
NASI DOANG (Pegagan OKI)
Udin datang ke Jakarta baru 2 minggu tapi logatnyo sudah cak wong Jakarta asli
Amin : Oii din ku dengo kau ikak ngomong doang, doang, doang doang ape kau ikak ngerti doang tu ape
Udin : Ao aku kak ngerti
Amin : Cubo kalu cak itu kau terangke ape arti doang itu?
Udin : Kalu tubuh makan dak belauk itu artinye NASI DOANG!
Amin : ??
Amin : Oii din ku dengo kau ikak ngomong doang, doang, doang doang ape kau ikak ngerti doang tu ape
Udin : Ao aku kak ngerti
Amin : Cubo kalu cak itu kau terangke ape arti doang itu?
Udin : Kalu tubuh makan dak belauk itu artinye NASI DOANG!
Amin : ??
PANCASILE (Sekayu Muba)
Amir : Payu YUNG kau NGAH tu lah pintar nia, coba sebutke PANCASILA itu ape?
Kuyung : Ao pacak cobalah kau dengo
Kuyung : Ao pacak cobalah kau dengo
Pancasile
Satu Bintang Segi Lime
Due Rantai Kebatan Kere
Tige Batang Beringin Tue
Empat Tanduk Sapi Gile
Lime Padi Makanan kite, Kapas ubat luke
Satu Bintang Segi Lime
Due Rantai Kebatan Kere
Tige Batang Beringin Tue
Empat Tanduk Sapi Gile
Lime Padi Makanan kite, Kapas ubat luke
KA MANNA KANG? (LAHAT)
Asep (Wong Sundo) : Kamana atuh kang?
Udin (Wong Lahat) : Oii idak ke MANNA, Tanjung Sakti
Asep (Wong Sundo) : Naon atuh?
Udin (Wong Lahat) : Idak Naon, balik ari
Udin (Wong Lahat) : Oii idak ke MANNA, Tanjung Sakti
Asep (Wong Sundo) : Naon atuh?
Udin (Wong Lahat) : Idak Naon, balik ari
* MANNA = salah kota di Bengkulu dekat Lahat
TENTRA SALING NIMBAK (LAHAT)
Udin bercito-cito jadi Polisi atau tentra, segalo macam caro dio cubo.
Saatnyo dio melamar ke Polda untuk jadi Secaba di Betung. Test pertamo adalah Test Wawancara
Saatnyo dio melamar ke Polda untuk jadi Secaba di Betung. Test pertamo adalah Test Wawancara
Polisi : Coba Saudara sebutkan motivasi saudara menjadi Polisi
Udin : Oii Pak jadi Plisi itu lemak, ade pistol, nangkap maling, naek bis di’de bayar..
Polisi : Stop.. pendapat saudara itu menghina kepolisian!
Saking emosinyo si polisi “ngocho” si Udin sampai gigi Udin rompang
Udin : Oii Pak jadi Plisi itu lemak, ade pistol, nangkap maling, naek bis di’de bayar..
Polisi : Stop.. pendapat saudara itu menghina kepolisian!
Saking emosinyo si polisi “ngocho” si Udin sampai gigi Udin rompang
Gigi rompang idak muat Udin putus aso, dio pegi ke tukang sopak gigi untuk pasang gigi baru. Sekali ini dio ikut Test untuk jadi Tentra
Test pertamo adalah test kesehatan
Test pertamo adalah test kesehatan
Dokter : Wah saudara Udin, sayang sekali anda tidak bisa masuk Tentara, karena saudara memakai gigi palsu
Udin : Oii Pak kito ini jadi Tentra ini, idak ke saling giget tapi saling nimbak..
Dokter : ???
Udin : Oii Pak kito ini jadi Tentra ini, idak ke saling giget tapi saling nimbak..
Dokter : ???
Ape Ngah ikak Tentra? (Sekayu Muba)
Udin lagi ke Plembang untuk meli baju di IP, dari KM 12 naek Bis kota ke IP.
Di dalam Bis lagi banyak wong, segalo wong nyetop diambik keneknyo disempel-sempelke dalam bis.
Tibo-tibo Udin meraso ado yang nginjak kakinyo, diliatnyo yang nginjak itu wong tinggi besak, rambut cepak, Udin gentar juga nak marah, dia dengan sopan nanyo ke wong itu
Udin lagi ke Plembang untuk meli baju di IP, dari KM 12 naek Bis kota ke IP.
Di dalam Bis lagi banyak wong, segalo wong nyetop diambik keneknyo disempel-sempelke dalam bis.
Tibo-tibo Udin meraso ado yang nginjak kakinyo, diliatnyo yang nginjak itu wong tinggi besak, rambut cepak, Udin gentar juga nak marah, dia dengan sopan nanyo ke wong itu
Udin : Misi pak, ape ngah ikak tentra?
Wong itu: bukan…
Udin : Ape ngah ikak Plisi?
Wong itu: bukan..???%(?
Udin : Ape ngah ikak Satpam?
Wong itu: ???? bukan
Udin : Ape.. ngah ikak Hansip..???
Wong itu: bukan???
Udin: KALU NGAH IKAK BUKAN TENTRA, BUKAN PLISI, BUKAN SATPAM, BUKAN HANSIP, NGAPE NGAH IKAK NGINJAK KAKI KU!!!??&?!!!!!!!
Wong itu: bukan…
Udin : Ape ngah ikak Plisi?
Wong itu: bukan..???%(?
Udin : Ape ngah ikak Satpam?
Wong itu: ???? bukan
Udin : Ape.. ngah ikak Hansip..???
Wong itu: bukan???
Udin: KALU NGAH IKAK BUKAN TENTRA, BUKAN PLISI, BUKAN SATPAM, BUKAN HANSIP, NGAPE NGAH IKAK NGINJAK KAKI KU!!!??&?!!!!!!!
BATAK KE BELAKANG!! (LAHAT)
Bentor Situmorang lagi ado tugas ke Lahat. Dari Plembang dio naek bis AKDP “Rico” jurusan Plembang-Lahat.
Pas dio masuk bis, Sopir langsung ngomong
Sopir: “Batak ke belakang!”
Meraso wong Batak Bentor langsung ke belakang
Setelah sampe di Simpang Tigo, ada yang nyetop bis, Sopir teriak lagi
“Batak ke samping!”
Bentor nurut bae apo yang di katoke sopir, maklumlah dio wong baru di sini jadi idak banyak laku dulu.
Sampai di Prabumulih, Sopir teriak lagi “Batak ke depan!”
Bentor jadi naek darahnyo, tapi dio diem bae terpakso dio juga ke depan nurut bae
Nah pas sampai ke Muara Enem, sopir teriak pulok
“Batak ke belakang”
Kali ini Bentor idak pacak lagi nahan emosinyo, dia teriak sekeras-kerasnyo ke sopir
“BAH CAM MANA PULAK KAU INI, KAU SURUH AKU KE BELAKANG, KAU SURUH AKU KE KE SAMPING, AKU KE SAMPING, KE DEPAN, AKU KE DEPAN SEKARANG KAU SURUH AKU BALIK KE BELAKANG!??!”
Sopir : ???$%$??#?#?? (idak ngerti??)
Pas dio masuk bis, Sopir langsung ngomong
Sopir: “Batak ke belakang!”
Meraso wong Batak Bentor langsung ke belakang
Setelah sampe di Simpang Tigo, ada yang nyetop bis, Sopir teriak lagi
“Batak ke samping!”
Bentor nurut bae apo yang di katoke sopir, maklumlah dio wong baru di sini jadi idak banyak laku dulu.
Sampai di Prabumulih, Sopir teriak lagi “Batak ke depan!”
Bentor jadi naek darahnyo, tapi dio diem bae terpakso dio juga ke depan nurut bae
Nah pas sampai ke Muara Enem, sopir teriak pulok
“Batak ke belakang”
Kali ini Bentor idak pacak lagi nahan emosinyo, dia teriak sekeras-kerasnyo ke sopir
“BAH CAM MANA PULAK KAU INI, KAU SURUH AKU KE BELAKANG, KAU SURUH AKU KE KE SAMPING, AKU KE SAMPING, KE DEPAN, AKU KE DEPAN SEKARANG KAU SURUH AKU BALIK KE BELAKANG!??!”
Sopir : ???$%$??#?#?? (idak ngerti??)
P.S = Batak ke Belakang (Lahat) = “Bawah ke belakang!”
MAT SENKANG BRENTI!
Mat Sengkang baru pai ikak ke Ibu kota Jakarta, Dio pengen nak meliat Monas, jadi naek bis kota jurusan Blok M- Kota (Jaman itu belum ado Busway). Cuma Mat Sengkang agak bingung cak mano caro wong Jakarta kalu nak berenti/turun dari bis.
Dio liat caro wong kalu nak stop.
“Ratu Plaza”! dio dengar ado cewek yang teriak ke supir, dan bisnya minggir dan cewek itu turun.
Mat Sengkang mangut-mangut
“Sudirman!” Wong lanang kali ini yang minta bis brenti dan turun, kemudian.
“Thamrin!” Wong lanang pulok yang turun.
Mat Sengkar bepikir ” oh jadi kalu nak brenti kito ini nyebutke namo”
“Sarina!” nah benar kali ini yang turun wong betino”
Ai Mat Sengkang yakin nian kalu caro minta brenti dengan nyebutke namo.
Setelah dio liat Monas keliat idak jauh lagi tempat dio nak brenti, dengan sekuat tenago dio teriak “MATT SENGKANG!!!!!!!!”.
Sopir dan seluruh penumpang : “??????&)#&$#*(#$#$?????
Dio liat caro wong kalu nak stop.
“Ratu Plaza”! dio dengar ado cewek yang teriak ke supir, dan bisnya minggir dan cewek itu turun.
Mat Sengkang mangut-mangut
“Sudirman!” Wong lanang kali ini yang minta bis brenti dan turun, kemudian.
“Thamrin!” Wong lanang pulok yang turun.
Mat Sengkar bepikir ” oh jadi kalu nak brenti kito ini nyebutke namo”
“Sarina!” nah benar kali ini yang turun wong betino”
Ai Mat Sengkang yakin nian kalu caro minta brenti dengan nyebutke namo.
Setelah dio liat Monas keliat idak jauh lagi tempat dio nak brenti, dengan sekuat tenago dio teriak “MATT SENGKANG!!!!!!!!”.
Sopir dan seluruh penumpang : “??????&)#&$#*(#$#$?????
IDAK TAKUT SIAPO BAE, KECUALI … ABRI
Mang Wahab, wong yang paling melawan di dusun dio di daerah pegagan, idak katek yang pacak melawan dio, keluar masuk penjaro sudah jadi acara tahunan dio.
Suatu hari dio datang ke Palembang, masuk rumah makan HAR di depan Masjid Agung. Dio pengen nunjuke bahwo dio wong yang paling melawan idak ado berani nantang.
“BRAAAKKKK!” Mang Wahab mengebrak meja
“INI DIO WAHAB DARI PEGAGAN, AKU IDAK TAKUT DENGAN SIAPO BAE, SIAPO YANG PALING MELAWAN, PALING HEBAT, TEGAK ADEPI AKU!”
Di liatnyo idak katek yang berani tegak nangepi tantangan dio, Mang Wahab tertawo dalam hati “memang idak katek yang berani!”
Tibo-tibo ado yang tegak di belakang, wongnyo tinggi besak, rambut cepak, pakaian loreng bawa pistol lagi.
Cepat-cepat Mang Wahab teriak….” KECUALI ABRI “
Suatu hari dio datang ke Palembang, masuk rumah makan HAR di depan Masjid Agung. Dio pengen nunjuke bahwo dio wong yang paling melawan idak ado berani nantang.
“BRAAAKKKK!” Mang Wahab mengebrak meja
“INI DIO WAHAB DARI PEGAGAN, AKU IDAK TAKUT DENGAN SIAPO BAE, SIAPO YANG PALING MELAWAN, PALING HEBAT, TEGAK ADEPI AKU!”
Di liatnyo idak katek yang berani tegak nangepi tantangan dio, Mang Wahab tertawo dalam hati “memang idak katek yang berani!”
Tibo-tibo ado yang tegak di belakang, wongnyo tinggi besak, rambut cepak, pakaian loreng bawa pistol lagi.
Cepat-cepat Mang Wahab teriak….” KECUALI ABRI “
SERSAN TUJOH
Umar : Oi sanak aku itu baru tamat AKABRI Magelang, pangkatnya Letnan Duo
kalu idak salah dio megang sekompi tentra. Hebat.. hebat nian budak itu!
Udin : ai kau, sanak kau itu masih kalah dengan sanak aku yang jadi Plisi
Umar : begawe di mano dio?
Udin : Mak ini ari begawe di Polda
Umar : Ai pasti pangkatnya kecik din
Udin : oi mungkin mak ini ari pangkatnyo suda SERSAN TUJOH
Umar : he he oi din dak katek pangkat Sersan Tujuh!
Udin : pacak bae, soalnya 7 tahuN yang lalu pangkatnya masih SERSAN DUO!
kalu idak salah dio megang sekompi tentra. Hebat.. hebat nian budak itu!
Udin : ai kau, sanak kau itu masih kalah dengan sanak aku yang jadi Plisi
Umar : begawe di mano dio?
Udin : Mak ini ari begawe di Polda
Umar : Ai pasti pangkatnya kecik din
Udin : oi mungkin mak ini ari pangkatnyo suda SERSAN TUJOH
Umar : he he oi din dak katek pangkat Sersan Tujuh!
Udin : pacak bae, soalnya 7 tahuN yang lalu pangkatnya masih SERSAN DUO!
SAPI BEKEN (Disadur dari Radio Ogan Ilir- Indralaya)
Udin : Ai mobil pick-up caknyo ngangur.
Amin : Iyo din lagi nunggu yang nak nyewo kalu bae dapet duit besak ari ini.
Udin : ini ado 2 sapi mamangku nak di kirim ke jawo, pacak dak kau ngangkutnyo?
Amin : Pacak, pacak, bereslah itu, biaso aku ngangkut sapi
Udin : jadi regonyo berapo sampai ke jawo?
Amin : kalu duo sapi yo kiro-kiro 2 juto bae
Udin : yo payulah kalu mak itu
Amin : jadi masukelah sapi-sapi kau itu ke belakang
Udin : itu lah masalahnyo min..
Amin : ngapo din?
Udin : soalnyo sapi-sapi ku nak duduk di depan…
Amin : &^&$&?????$#$#&*&*(#@#??
Udin : Ai mobil pick-up caknyo ngangur.
Amin : Iyo din lagi nunggu yang nak nyewo kalu bae dapet duit besak ari ini.
Udin : ini ado 2 sapi mamangku nak di kirim ke jawo, pacak dak kau ngangkutnyo?
Amin : Pacak, pacak, bereslah itu, biaso aku ngangkut sapi
Udin : jadi regonyo berapo sampai ke jawo?
Amin : kalu duo sapi yo kiro-kiro 2 juto bae
Udin : yo payulah kalu mak itu
Amin : jadi masukelah sapi-sapi kau itu ke belakang
Udin : itu lah masalahnyo min..
Amin : ngapo din?
Udin : soalnyo sapi-sapi ku nak duduk di depan…
Amin : &^&$&?????$#$#&*&*(#@#??
SEJARAH PEMPEK PALEMBANG
Sejarah Pempek Palembang
Posted in Pempek
01
AprPenyajian pempek palembang ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka ataucuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Cuko adalah teman makan pempek yang setia, dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Ada juga cuko manis bagi yang tidak menyukai pedas.
Jenis pempek palembangyang terkenal adalah “pempek kapal selam” adalah telurayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek te lur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan gampang di seantero Kota Palembang. Ada yang menjual di restoran, ada yang di gerobak, dan juga ada yang dipikul. Juga setiap kantin sekolah pasti ada yang menjual pempek.� Tahun 1980-an, penjual pempek bisa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya!. Pempek sekarang ada dua jenis yaitu Parempekcampuran antara Pare dan Pempek.
Menurut sejarahnya, pempek palembang telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek � apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.[1]
Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Walaupun begitu sangat mungkin pempek palembang merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang.
Pada awalnya pempek palembang dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti denganikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.
Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut sepertiTenggiri, Kakap Merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah.
ASAL MULA NAMA PALEMBANG
Asal Mula Nama Palembang
Posted by me. . pada Februari 24, 2010
sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=944647&page=6
Pada zaman dahulu, daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi berupa hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba*tanghari Sembilan. Sungai besar yang mengalir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, dan beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada dua Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yaitu Sungai Musi yang melalui Palembang dan Sungai Musi Banyuasin agak di sebelah utara.
Karena banyak sungai besar, dataran rendah yang melingkar dari daerah Jambi, Sumatra Selatan, sampai Provinsi Lampung merupakan daerah yang banyak mempunyai danau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu adalah rawa yang digenangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah adalah sebuah pulau di Sungai Melayu. Pulau kecil itu berupa bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru.
Keunikan tempat itu selain hutan rimbanya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kahyangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayangnya itu mendiami hutan rimba raya, lereng, dan puncak Bukit Barisan serta kepulauan yang sekarang dikenal dengan Malaysia. Mereka gemar datang ke daerah Batanghari Sembilan untuk bercengkerama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.
Karena banyaknya sungai yang bermuara ke laut, maka pada zaman itu para pelayar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bahkan sampai ke kaki pegunungan, yang ternyata daerah itu subur dan makmur. Maka terjadilah komunikasi antara para pedagang termasuk pedagang dari Cina dengan penduduk setempat. Daerah itu menjadi ramai oleh perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang. Akibatnya, dewi-dewi dari kahyangan merasa terganggu dan mencari tempat lain.
Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk membuat rumah di sana. Karena Sumatra Selatan merupakan dataran rendah yang berawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.
Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.
Oleh karena itu, orang yang telah bermukim di Sungai Melayu, terutama penduduk kota Palembang, sekarang menamakan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen*duduk Melayu.
Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang banyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran tinggi yang hendak ke Palembang sering me*ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.
Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Seguntang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada*lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.
Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.
Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang. Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau lokasi. Pertumbuhan ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur per*dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang
Langganan:
Postingan (Atom)